Cara Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok

Banyak alternatif untuk memulai usaha ternak ikan nila hitam ataupun merah. Selain kolam terpal ataupun beton, ikan nila sendiri juga sangat baik dibudidayakan dengan menggunakan sistem Bioflok. Apalagi untuk masyarkat atau kalangan petani ikan yang tidak mempunyai lahan yang memadai, maka sistem bioflok untuk ikan nila sendiri sangatlah direkomendasikan. Bahkan menggunakan teknik budidaya bioflok, jauh lebih irit dan ikan dianggap lebih cepat besar.

Cara budidaya ikan nila sistem bioflok sendiri tentunya juga lebuh mudah dilakukan. Dimana ternak ikan dengan menggunakan sistem ini biaya operasional selama pembesaran ikan nila sendiri terbilang lebih irit. Bagaimana tidak yang mana sistem biflok memang dibuat dengan tujuan untuk menghidupkan mikroorganisme yang nantinya bisa digunakan sebagai pakan ikan. Selain mikroorganisme, biflok sendiri juga terdapat organik dan non organik serta kation.cara budidaya ikan nilaBudidaya ikan nila dengan menggunakan sistem bioflok sendiri bisa dimulai dengan penebaran benih setidaknya 4 gram dengan kolam bak semen seluas 160m2 dengan kepadatan benih sekitar 38 ekor per meter persegi pada salinitas 10 ppt. Pakan komersil setidaknya mempunyai kandungan protein kasar 28%. Pakan tersebut bisa diberikan pada bulan pertama sebanyak 4% dari total berat badan. Pada bulan berikutnya 3,5% dan seterusnya.

Cara Budidaya Ikan Nila dengan Sistem Bioflok

  • Untuk sumber karbon organik pemicu pembentukan flok, diberikan molase sebanyak 300 ml.
  • Molase tersebut diberikan setiap tiga hari sekali atau 2 kali per minggu.
  • Aerasi udara diberikan secara merata dengan jarak sekitar 2 meter.
  • Setelah memasuki masa pemeliharaan bulan ketiga, kincir dipasang untuk menambah kandungan oksigen di kolam pemeliharaan agar reproduksi ikan tetap maksimal.

Petani ikan nila sendiri sudah bisa panen dalam inteval waktu setidaknya selama 4 bulan. Rata-rata hasil yang dapat diperoleh dalam panen pertama ialah 508 kg dengan rata-rata berat ikan 154 gram.ternak ikan nila

Kelebihan Sistem Biflok

  • pH air cenderung lebih stabil antara pH 7 – pH 7,8
  • pH nya cenderung rendah, sehingga kandungan amoniak (NH3) relatif lebih kecil.
  • Tidak bergantung pada sinar matahari dan aktivitasnya akan menurun bila suhu rendah.
  • Tidak perlu ganti air (sedikit ganti air) sehingga biosecurity (keamanan) terjaga.
  • Limbah tambak (kotoran, algae, sisa pakan, amonia) dapat didaur ulang dan dijadikan makanan alami berprotein tinggi untuk ikan.
  • Lebih ramah lingkungan.

Kekurangan Sistem Biflok

  • Tidak bisa diterapkan pada tambak yang bocor.
  • Memerlukan aerator cukup banyak sebagai suply oksigen.
  • Aerasi harus hidup terus (24 jam/hari).
  • Pengamatan harus lebih jeli dan sering muncul kasus Nitrit dan Amonia yang cukup berbahaya bagi ikan.
  • Bila aerasi kurang, maka bisa terjadi pengendapan bahan organik. Resiko munculnya H2S lebih tinggi karena pH airnya lebih rendah.
  • Kurang cocok untuk tanah yang mudah teraduk (erosi).
  • Bila terlalu pekat, maka dapat menyebabkan kematian bertahap karena krisis oksigen (BOD tinggi)
    Untuk itu volume Suspended Solid dari floc harus selalu diukur. Bila telah mencapai batas tertentu, floc harus dikurangi dengan cara konsumsi pakan diturunkan.

Baca Juga : Umpan Mancing Ikan Nila

Budidaya ikan nila dengan sistem bioflok terhitung lebih simpel dan cepat. Bagimana tidak, keuntungan yang dapat diperoleh oleh petani selama waktu pembesaran 4 bulan sendiri ialah sekitar 2 jutaan pada kolam seluas 160 meter persegi. Jika dikonversikan, pendapatan rata-rata per tahun sekitar Rp382,875 juta/ha. Cukup sekian informasi sederhana mengenai cara budidaya ikan nila sistem biflok, semoga bisa sedikit bermanfaat.

Tinggalkan komentar